cappuccino break

Ikon

-Just For Expression-

Bagaimana Kepastian Kerja Karyawan Kontrak?


 
Tadi malam ada beberapa teman yang datang berkunjung kerumah. Bisa dibilang sudah cukup lama tidak bertemu dengan mereka, mungkin karena masing-masing punya kesibukan sendiri yang sudah tidak seperti dulu ketika masih sekolah.

Selama kurang lebih 3 jam obrolan santai dan canda tidak terasa lama sampai ketika waktu menunjukkan pukul 23.00. Dalam obrolan semalam, topik pembicaraan kami seputar pengalaman dan pekerjaan. Kebetulan seorang teman-sebut saja si C- bekerja di sebuah BUMN yang bekerja sebagai pegawai dengan status kontrak, atau kerennya outsource.  Dalam ceritanya, dia bekerja sejak tahun 2004 dan saat itu dia mendapat informasi dari kakaknya yang bekerja di BUMN tersebut bahwa ada salah satu divisi di perusahaannya membutuhkan beberapa orang yang sanggup untuk ditempatkan diseluruh Indonesia, dimana yang mengadakan proses rekrutmen adalah koperasinya. Karena pada saat itu, setelah lulus Sarjana Tehnik Sipil di Unila, dia belum mendapatkan pekerjaan yang benar-benar pas, maka dia pun segera mengambil tawaran itu, dan mendapat penempatan di Palembang.  

Selama bekerja, dia merasa enjoy dan merasa betul-betul menemukan bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya. Namun dia mengatakan ada satu hal yang tidak dapat dia temukan dalam pekerjaannya. “Apa itu? bukankah kamu sudah enjoy dengan pekerjaan itu?” tanya seorang teman-sebut saja si A, dia ini bekerja sebagai dosen di Sekolah Tinggi swasta di Bandar Lampung. “Lantas apa yang tidak kamu temukan disana? kamu tinggal tekuni, buat prestasi dan jalin hubungan yang baik dengan rekan dan atasan, beres kan?” sambung teman lainnya-si B yang bekerja di sebuah Bank Daerah di Lampung. Sambil meneguk air kopi di cangkir yang memang sudah dari tadi dipegangnya, si C menjawab, “Kepastian kerja, selama tiga tahun saya bekerja, kontrak diperpanjang per satu tahun.” setelah meletakkan cangkirnya, dia melanjutkan,”keputusan kontrak sebenarnya bukan berada di pihak BUMN tempat saya bekerja, tapi dari third party, selaku customer dari BUMN itu sendiri.” “Artinya BUMN tempat kamu bekerja sekarang ini bergantung dari third party dong, dengan kata lain sekalipun kinerja kamu baik dimata atasan dan perusahaan, jika thirdparty tidak lagi menggunakan perusahaan kamu lagi dengan suatu alasan, otomatis kontrak tidak diperpanjang, begitu?” saya berusaha berusaha bertanya untuk memperjelas situasinya.”yaa.. sepertinya begitu bim.” si C menjawab pendek. Si A yang dari tadi manggut-manggut angkat bicara,”Wah… kamu dihadapkan dengan dilema nih, memilih pilihan yang terbaik diantara dua pilihan, dimana ketika kamu ingin mencari pekerjaan lain, tapi tertahan dengan aktivitas dan pekerjaanmu sekarang.” Begini saja, lanjut saya , “kamu cari-cari info deh, ke teman-teman yang satu angkatan dengan kamu, atau bisa juga dengan atasan kamu mengenai project pekerjaan yang sudah tiga tahun ini, siapa tahu dapat pandangan apakah kontrak masih akan diperpanjang atau sampai berapa tahun lagi, dengan begitu kan kamu bisa buat persiapan atau untuk dasar ambil keputusan.” “Gaji kamu berapa untuk pekerjaan ini?”, tanya si B dengan raut wajah penasaran. “Gaji-nya sih lumayan besar, masih bisa untuk beli PC rakitan lah setiap bulannya.” canda si C. Menanggapi gurauan si C, si A menyela, “Belikan PC aja setiap bulan, selama tiga tahun kan sudah ada sekitar 36 PC, buka warnet atau game center kan udah bisa.” Dengan disambut tawa semua teman. 

Dari situasi tersebut, saya sendiri apabila dihadapkan dengan kondisi yang seperti itu, mungkin juga akan bingung. Tapi pendapat seorang teman – si A-  memberikan inspirasi buat saya, yaitu bahwa dalam kondisi seperti ini kita memang harus benar-benar memanfaatkan apa yang sudah ada, misalnya dari pendapatan yang kita peroleh selama kontrak berjalan yang bisa kita manfaatkan untuk berwirausaha kecil-kecilan, atau memperbanyak relasi atau mungkin juga mencari pekerjaan-pekerjaan yang tidak fulltime seperti misalnya fotografer, atau drafter karena mungkin basicnya adalah tehnik sipil, atau lainnya. Dan ketika kemungkinan terburuknya adalah kontrak kerja tidak lagi diperpanjang, kita sudah memiliki “pegangan” penghasilan meskipun tidak sebanyak ketika kita bekerja sebagai karyawan kontrak. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengandalkan pekerjaan tersebut_red.sebagai karyawan kontrak, karena tidak ada jaminan bahwa karyawan kontrak akan diangkat menjadi permanen. Satu-satunya jaminan untuk masa depan adalah apabila kita benar-benar mampu mengeksploitasi dan me-manage skill dan keterampilan pribadi yang kita miliki.

Filed under: Pekerjaan, , , , ,

2 Responses

  1. bima mengatakan:

    sebagai tambahan, kita harus benar-benar memanfaatkan peluang tanpa meninggalkan apa yang sudah ada.

  2. [...] kontraknya selalu dievaluasi setiap satu tahun sekali (hampir sama dengan cerita teman saya pada tulisan saya terdahulu). Katanya honornya sih lumayan besar, kurang lebih sekitar 1.5oo.ooo an. Tapi belakangan dia [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 153,150 hit

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: