cappuccino break

Ikon

-Just For Expression-

Apakah Kita Krisis Pemimpin?

Beberapa hari yang lalu, tanggal 8 November 2007, salah satu media televisi swasta menayangkan sebuah acara dialog yang bertopik “Pemimpin Nasional: Tua vs Muda”. Dalam wacana dialog tersebut hadir sebagai pembicara dari beberapa kalangan dan profesi, seperti Chalid Muhamad (Direktur Walhi), Faisal Basri (Pengamat Ekonomi), Politisi senior Akbar Tandjung, Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor Universitas Indonesia), Budiarto Shambazy (Wartawan Kompas), Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDIP), Anas Urbaningrum (Ketua DPP Partai Demokrat), dan Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina).Topik dialog tersebut diangkat karena mengemukanya wacana dikotomi antara kepemimpinan kaum tua dan kepemimpinan kaum muda. 

Menurut saya, wajar apabila kemudian muncul wacana seperti ini, pertama karena sebentar lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi akbar, yakni Pemilihan Presiden tahun 2009 dan yang kedua nama-nama kandidat capres yang dimunculkan adalah tokoh-tokoh lama, seperti mantan presiden dan juga mantan gubernur. Dalam hal ini, yang paling mendapat sorotan adalah partai politik. Kenapa? Karena parpol yang seharusnya idealis dalam membangun bangsa dan melahirkan kader-kader baru yang potensial dan memiliki visi dan misi yang baru tetapi ternyata masih tetap mempertahankan wajah lama yang notabene oleh berbagai kalangan telah dinyatakan gagal dalam kepemimpinan sebelumnya. Dalam mekanismenya, seharusnya Parpol selalu melakukan regenerasi terhadap kadernya sehingga mampu melahirkan calon-calon pemimpin yang fresh dan berkompeten dan tentunya memiliki track record yang baik. Ini sangat penting dilakukan untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak reputasi parpol itu sendiri. Artinya, kita juga harus bercermin pada partai politik di luar negeri, bahwa ketika sosok pemimpin yang merupakan kader dari suatu parpol kemudian dinyatakan gagal dalam kepemimpinannya, maka sudah seharusnya parpol tersebut tidak lagi mempertahankan sosok tersebut, namun harus segera memunculkan kader baru yang dihasilkan dari proses regenerasi untuk menjaga reputasi parpol tersebut dimata rakyat.

Direktur Walhi, Chalid Muhammad menilai bahwa kaum muda lebih bersih dan layak diberi kesempatan memimpin, dan dia juga mengatakan bahwa pemerintah yang mayoritas diisi wajah lama hanya mengeluarkan kebijakan yang kemudian menimbulkan problem  Politisi senior Akbar Tandjung berpendapat bahwa dikotomi pemimpin tua dan muda tidak relevan, sebab lahirnya pemimpin nasional melalui suatu proses bukan karena tua atau muda. Dia mengatakan bahwa “Kalau orang muda ingin berpolitik, silahkan masuk parpol, karena itulah saluran rekrutmennya.” Menurut saya, memang benar apa yang dikatakan Pak Akbar, tetapi pada kenyataannya, sampai kini pun proses regenerasi dan kaderisasi dalam parpol tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam konteks ini, sebenarnya kepemimpinan tidak hanya sebatas pada popularitas dan usia saja. Akan tetapi gaya dan cara kepemimpinan serta track record juga penting diperhatikan. Seperti misalnya ada seseorang yang pernah dipercaya untuk memimpin ternyata gagal, maka tidak seharusnya dipertahankan dan atau bahkan diusung lagi sebagai calon pemimpin. Inilah yang sampai saat ini masih terlihat pada sistem partai di Indonesia, kurangnya kaderisasi dan regenerasi yang akhirnya kegagalan pembangunan berulang dan masalah nasional semakin menumpuk. Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri memberikan pendapatnya bahwa selain harus mendidik masyarakat bahwa popularitas bukanlah segalanya, peluang munculnya calon independen juga harus dibuka. Disini kemudian wacana bergeser lagi kepada pertanyaan,”Kenapa calon pemimpin kita hanya diisi oleh wajah-wajah lama? Apakah sebenarnya kita kekurangan  sosok pemimpin?”  

Saya sendiri tidak sependapat dengan wacana yang kedua ini, karena di negara Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 200 juta jiwa ini, masih sangat banyak figur-figur pemimpin yang memiliki kompetensi, jiwa kepemimpinan dan track record yang baik, sebut saja di tingkat kabupaten ada Bupati, di tingkat kota ada Walikota, di tingkat provinsi ada Gubernur, dari kalangan pers, pengusaha, pesantren, akademisi dan lain-lain. Memang tidak ada jaminan bahwa pemimpin wajah baru tersebut mampu sepenuhnya mengatasi sederet permasalahan negara yang sudah menunggu, namun setidaknya ada usaha pembenahan nasional kearah yang lebih baik, dan selain itu juga dinamika politik nasional terkesan sehat dan demokratis. Namun untuk membantu terwujudnya pemerintahan yang baik, dukungan dari tokoh pemimpin lama dan politisi senior juga tetap dibutuhkan untuk menunjang program pembangunan yang telah atau sedang dijalankan, sehingga pembangunan tidak terhambat dan tidak benar-benar dimulai dari nol. Dalam hal ini, selain pemimpin baru harus konsisten dengan visi misi dan programnya yang akan dijalankan ia juga harus mengkedepankan progres program dari pemimpin sebelumnya yang belum sempat direalisasikan. Dengan adanya sinergi yang baik ini, diharapkan kondisi Indonesia akan menjadi lebih baik, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik. Wassalam.

Filed under: Birokrasi & Politik, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 171,161 hit

Kategori

%d blogger menyukai ini: