cappuccino break

Ikon

-Just For Expression-

PKL: Antara Tata Kota dan Niaga

Oleh:   Arditya Bima           

Lain dulu lain pula sekarang. Pasar Bambu Kuning dulu yang terlihat semrawut dan jorok, kini terlihat rapi dan tertata, bersih, dan jauh dari kesan kumuh. Angkutan umum pun kini ada yang dialihkan ke jalur seputaran pasar Bambu Kuning, yaitu berputar melalui jalan Bukit Tinggi, Batu Sangkar dan ujung Jl. Imam Bonjol.

Pemandangan yang tampak di sepanjang jalan seputaran pasar Bambu Kuning hanya mobil-mobil yang parkir berjajar rapi, meskipun masih ada sedikit pedagang gerobak yang menjual dagangannya disana. Jalan tersebut terlihat seperti pusat pertokoan yang teratur. Tepat di halaman depan Pasar Bambu Kuning, yang dulunya disesaki oleh para PKL, mulai dari menjual buah, pakaian, tas dan lain-lainnya kini digunakan sebagai lahan perparkiran. Kemana para PKL (Pedagang Kaki Lima)? Dimana mereka yang biasa menjual dagangannya di sekitar jalan itu?   Ya. Pemerintah Kota melalui Dinas Pasar belum lama ini berhasil melakukan relokasi terhadap mereka pada tanggal 30 Oktober 2007 lalu, ke tempat yang dianggap lebih layak. Pemkot Bandar Lampung telah bertekad untuk menegakkan Perda  No. 8 Tahun 2000, mengenai Ketertiban, Keindahan, Keamanan, Kenyamanan dan Kebersihan (K5). Tempat relokasi atau lapak baru itu adalah di bangunan pasar Bambu Kuning lantai 2 dan 3. Sebelumnya, Pemkot juga sudah melakukan relokasi PKL di Pasar Gudang Lelang (Gudel), dimana pasar Gudel pun kini terlihat lebih bersih dan teratur. Sekarang juga sedang disosialisasikan adalah relokasi PKL yang ada di sekitaran Pasar Tengah ke basecamp di Ramayana. Meskipun upaya penertiban tersebut sempat diwarnai aksi protes dari PKL, namun keadaan tersebut tidak menimbulkan bentrok fisik yang sempat dikhawatirkan oleh beberapa pihak. Terlepas dari hal diatas, mari kita melihat penertiban PKL Bambu Kuning ini dari dua sisi, yaitu Penataan Kota dan dari sisi Perniagaan. Penataan kota yang dilakukan Pemkot Rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menertibkan PKL di tahun 2007 ini tidak disurutkan oleh berbagai aksi protes yang dilakukan PKL. Penertiban ini memang digagas untuk meneruskan rencana program Pemkot mengenai pembenahan, penataan serta mewujudkan tata ruang kota Bandar Lampung yang teratur dan rapi.  Memang program penataan kota, khususnya penertiban PKL  yang dilakukan Pemkot ini sangat tepat. Coba kalau kita ingat kondisi pasar Bambu Kuning yang dulu sebelum ditertibkan, maka yang ada di bayangan kita adalah ketidaknyamanan saat berkendara, terutama di jl. Batusangkar, bukittinggi, dan Jl. Imam Bonjol. Kondisi jalan itu selalu penuh sesak dengan banyaknya pedagang yang menggelar lapaknya di bahu-bahu jalan sehingga tidak jarang kendaraan pengunjung ada yang terparkir sembarangan, kemudian kendaraan yang hendak melintasi jalan-jalan tersebut harus berjalan merayap dan belum lagi banyaknya pejalan kaki dan becak yang lalu lalang. Hal ini tentunya menimbulkan kemacetan, dan tak jarang pula kemacetan sampai terjadi di jalan Kartini utamanya sebelum masuk ke jalan Bukittinggi. Kondisi seperti itu membuat gerah para pengguna jalan, akhirnya pula hal itu sekaligus mencerminkan bagaimana kepribadian Kota Bandar Lampung. Dalam rencananya, relokasi ini akan memberikan lokasi baru kepada para PKL, yaitu di lantai 2 dan 3 di Bambu Kuning Plaza. Namun permasalahan baru yang timbul adalah jumlah lapak yang disediakan (hanya 486 lapak) tidak lebih besar dari jumlah PKL yang tergusur (sebanyak 996 lapak). Dengan demikian bagaimana nasib 510 PKL yang tidak mendapatkan lapak? Akibatnya, PKL kembali mengganggu Pemkot dengan tetap menggelar dagangannya di tempat yang lama dan mereka kerap bermain kucing-kucingan dengan patroli Pol. PP. 

Memang implementasi relokasi PKL ini tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semudah seperti kita mengatakan “Relokasi PKL”. Apalagi dalam kaitannya dengan penataan dan tata ruang kota, harus dilaksanakan perencanaan yang benar-benar matang dan perlu melibatkan pihak-pihak yang berkompeten dibidang tata kota. Karena sebelum membuat perencanaan itu sendiri ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan, yaitu penelitian dan peramalan. Artinya disini, sebelum benar-benar mengambil kebijakan penertiban PKL, seyogyanya Pemkot melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan, atau katakanlah misalnya duduk satu meja dengan beberapa perwakilan dari PKL, dari Legislatif, pihak yang berkompeten seperti misalnya tim arsitektur tata kota, ormas-ormas, dan pihak lain yang mungkin bersinggungan dengan penertiban itu sendiri. Baru setelah itu nantinya akan muncul konsensus-konsensus baru yang tidak merugikan pihak-pihak manapun. Tapi bagaimanapun juga, sebagai masyarakat yang baik, apapun yang sudah menjadi program dari Pemkot patut kita dukung, sepanjang tujuannya untuk kesejahteraan bersama, mewujudkan keindahan dan kenyamanan kota Bandar Lampung, dan tentunya bukan dengan maksud eksploitasi semata.  

Relokasi PKL dari sudut pandang niaga 

Jika kita melihat secara makro, sektor riil merupakan salah satu faktor yang dapat menopang perekonomian suatu negara. Kenapa demikian? Salah satunya karena sektor riil adalah sektor bisnis atau niaga atau dagang sejatinya mampu memberikan kontribusi yang benar-benar nyata kepada masyarakat. Tapi itu pandangan secara universal. Lantas apa kaitannya dengan PKL? Kalau dapat saya katakan, PKL merupakan sektor riil, dimana usaha yang dilakukannya memberikan manfaat secara langsung kepada khalayak (benefit directly). PKL adalah pedagang. Pedagang yang benar-benar menjalankan usahanya pure dagang. Artinya, mereka tidak menggunakan sistem informasi yang rumit, tidak menggunakan peralatan-peralatan modern, pokoknya, mereka berdagang dengan cara yang konvensional. Ada uang ada barang, harga yang dipatok juga relatif murah dan bisa ditawar. PKL memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kaitannya dengan PAD. Tapi kontribusi yang diberikan tersebut memang tidak sebanding jika kita mengukurnya dengan Pengusaha Supermarket, Minimarket, Toko Grosir, Pemilik Ruko, pemilik sarang burung walet, perkantoran dan lain sebagainya. Karena PKL adalah “Pemain kecil”, mereka tidak memiliki bentuk badan usaha, mereka berusaha dengan permodalan yang sesedikit mungkin dengan upaya masing masing untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh karenanya, sangat tidak layak bila mereka mendapatkan tekanan-tekanan yang tidak menguntungkan.

Dalam hal relokasi, sekalipun mereka tidak direlokasi, ditempatnya yang lama pun, para PKL sebenarnya sudah banyak mengeluarkan biaya, seperti salar, keamanan, kebersihan, sewa lokasi dan sebagainya, yang besarannya variatif dari yang paling kecil Rp 5000 (yang mana menurut mereka uang itu disetorkan ke pemerintah). Tapi hal tersebut tetap mereka lakoni, kenapa? Karena modal mereka yang serba terbatas tadi, jadi mereka tidak mempunyai choice terhadap lokasi yang akan digunakan. Kecenderungan-kecenderungan inilah yang mustinya dipelajari oleh Pemkot, khususnya Dinas Pasar, karena sebagai pelaksana teknis, harusnya sudah lebih memahami bagaimana keadaan para PKL dan kenapa mereka sulit untuk ditertibkan. 

Sebenarnya, yang paling perlu ditekankan dalam hal relokasi ini adalah Sosialisasi. Maksudnya adalah memberikan pengertian kepada PKL mengenai apa, kenapa dan bagaimana yang terjadi setelah mereka direlokasi. Disinilah pentingnya peranan peramalan sebelum membuat perencanaan, seperti yang telah saya kemukakan tadi diatas. Adapun alasan PKL yang tidak mau direlokasi lantaran ketakutan karena sepinya pembeli, aksesnya yang jauh, yang berakibat pada menurunnya hasil penjualan, pada dasarnya menurut saya hal tersebut sangat berlebihan. Kenapa? Karena menurut pandangan saya, apabila para PKL tertib mengikuti program yang dilaksanakan Pemkot melalui Dinas Pasar, maka dipastikan seluruh lapak yang ada di lantai 2 dan 3 akan penuh terisi pedagang. Dan lambat laun, pembeli akan terbiasa ditempat yang baru, yang lebih bersih, lebih teratur dan nyaman, juga tentunya, kekhawatiran menurunnya omset penjualan hanya bersifat temporer, pada akhirnya kenaikkan omset akan dirasakan PKL secara signifikan, seperti yang dirasakan para pedagang yang ada di pasar Gudel, yang telah direlokasi lebih dulu. Kemudian alasan PKL mengenai keengganan calon pembeli ke lokasi lapak lantaran jauh juga tidak berdasar. Bayangkan saja, kenapa orang-orang masih mau mengunjungi mall atau pusat-pusat perbelanjaan yang tak jarang memiliki 4 bahkan sampai 20 lantai? Jawabannya mungkin karena kebutuhan yang dicari, bisa juga karena mungkin ia adalah pelanggan tetap suatu toko, atau mungkin hanya sekedar shopping window. 

Yang menjadi tugas Pemkot setelah relokasi berjalan tertib adalah melakukan penataan ruang atau lapak di lantai 2 dan 3 pasar Bambu Kuning dengan mengklasifikasikan lokasi lapak berdasarkan jenis barang yang dijual, misalnya tidak mencampurkan lapak pedagang ikan dengan pedagang kain dan sebagainya, atau kalau perlu diberikan papan penunjuk lokasi lapak di muka tangga naik untuk memudahkan pembeli. Dan hal yang juga penting dilakukan oleh Pemkot adalah tidak menarik biaya sewa  lapak baru dengan harga yang terlalu tinggi, akan tetapi tetap memperhitungkan aspek-aspek keekonomian, seperti misalnya berapa rata-rata (average) pendapatan para PKL, seberapa cepat arus perputaran uang di pasar tersebut, dan lain sebagainya, sehingga tidak menimbulkan polemik baru.  

Jadi dapat saya katakan, bahwa relokasi ini menguntungkan bagi PKL, dengan catatan  sepanjang tempat baru yang disediakan benar-benar layak, kemudahan dari segi aksesibilitas, serta kebijakan dari pemerintah yang tidak memberatkan dan menekan PKL. Mari kita bersama-sama menjadikan Bambu Kuning Plaza sebagai “Bambu Kuning Plaza” yang sesungguhnya, yang bersih, nyaman, tertata rapi dan tertib. Wassalam.

 

Filed under: Administrasi, Ekonomi, , , ,

3 Responses

  1. danny mengatakan:

    tidak semudah itu mas, apalagi bila dilihat dari sudut pandang pkl.

  2. bimaconcept mengatakan:

    apa yang menurut mas danny terkesan sulit untuk direalisasikan??

  3. hanifah mengatakan:

    assalamu,alaikum
    kalo dipandang dari sudut ekonomi perkotaan gimana mas, PKL itu sendiri? Thank’s.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 171,161 hit

Kategori