cappuccino break

Ikon

-Just For Expression-

Sektor Riil Ditengah Gejolak Pasar Global

Oleh:   Arditya Bima           

Sektor riil yang sejatinya dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan membantu pertumbuhan perekonomian secara makro, senantiasa mengalami tekanan (pressure) dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Seperti pada waktu lalu, sektor riil sempat terkena imbas dari langkah yang diambil oleh Pemerintah dalam upaya menekan angka inflasi yang cukup tinggi, yaitu dengan menaikkan suku bunga pinjaman (lending rate) bank.

Memang dengan rendahnya tingkat inflasi, daya beli masyarakat lokal bertendensi naik atau stabil, namun tidak halnya dengan pasar internasional. Dan mengenai tingginya lending rate, tentunya tidak ada sektor riil yang diuntungkan dengan dikeluarkannya kebijakan ini. Belum lagi dengan adanya kenaikan BBM non subsidi untuk industri sebesar 10% yang mulai diberlakukan per tanggal 15 November 2007 lalu akibat dari fluktuasi harga minyak mentah dunia. Disini, sektor riil juga mengalami ketidakpastian usaha yang ditimbulkan dari Surat Keputusan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Ahmad Faisal, yang menyebutkan bahwa harga BBM non subsidi untuk industri akan selalu dievaluasi per 2 (dua) minggu sekali dari yang sebelumnya selama 1 (satu) bulan sekali, dan mekanisme seperti ini akan tetap dipertahankan sampai fluktuasi harga minyak dunia mereda. Entah sampai kapan. 

Namun kabar baik dari pemerintah melalui Deputi Gubernur BI, Hartadi A. Sarwono, menegaskan bahwa inlfasi Bulan November tidak setinggi tahun lalu, karena meskipun harga minyak mentah dunia hampir mencapai USD 100 per barelnya dan anggaran pemerintah untuk subsidi BBM mengalami kenaikkan, namun dampaknya terhadap APBN akan tetap netral, karena penerimaan negara dari sektor migas juga tinggi. Dengan demikian, maka sektor riil diharapkan untuk tetap tenang karena daya beli masyarakat diperkirakan stabil. 

Apabila kita melihat kedepan, dalam kaitannya dengan gejolak pasar finansial yang sedang terjadi saat ini, tentunya sektor riil yang masih didukung oleh kaum kapitalis masih dapat survive. Akan tetapi bagaimana dengan yang memiliki keterbatasan dalam hal permodalan? Tentunya akan rontok satu persatu, yang contohnya mungkin akan dimulai dengan dilakukannya efisiensi karyawan/ PHK yang dapat memicu besarnya angka pengangguran. Ini tentunya akan menjadi polemik baru yang membutuhkan pembahasan tersendiri. Bahkan menurut Direktur Direktorat Penelitian dan Pengawasan Perbankan BI, Halim Alamsyah, adanya gejolak lingkungan eksternal ini akan menjadi penyebab utama timbulnya instabilitas pada sektor keuangan di Indonesia secara umum. Akan tetapi, selain daripada itu, yang juga berpotensi menimbulkan instablitas ekonomi di Indonesia menurut saya adalah ketika pemerintah melakukan pembenahan ekonomi makro tanpa dibarengi dengan upaya untuk menggerakkan sektor riil.  

Sebagai salah satu contoh, coba kalau kita melihat Lampung. Lampung, merupakan provinsi yang cukup dikenal di luar negeri, khususnya sebagai penghasil komoditas udang serta hasil-hasil bumi seperti kopi dan coklat.  Bahkan, Lampung mendapat peringkat pertama di seluruh Indonesia  sebagai provinsi pengekspor udang terbesar. Juga kopinya, Kopi Lampung identik dengan cita rasa yang khas, hampir mengalahkan kopi Brazil.Ini tentunya membanggakan. Namun mungkin Pemerintah tidak begitu memperhatikan hal ini, padahal jelas kita tahu bahwa perusahaan-perusahaan ini memberikan kontribusi nyata terhadap devisa negara, melalui pajak, pengurusan dokumen, cukai /BC dan lain-lain. Lantas permasalahannya, bagaimana ketika perusahaan-perusahaan pengekspor di Lampung dihadapkan dengan keadaan seperti ini? Atau bagaimana dengan perusahaan industri manufaktur yang lain? Bagaimana nasib para developer perumahan dan lain sebagainya. Yang jelas, mereka akan berusaha untuk tidak terpuruk atau setidaknya dapat bertahan untuk sementara waktu sampai krisis ekonomi global berakhir. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, setidaknya pemerintah harus dapat memberikan keseimbangan kebijakan yang sedikit banyak dapat mendorong pertumbuhan sektor riil atau setidaknya agar sektor riil dapat survive. Misalnya saja dengan mengubah kebijakan fiskal, yaitu dengan adanya pemberian insentif dan atau privilege (perlakuan khusus). Memang, seperti kita ketahui pemerintah telah memberikan insentif dalam hal investasi perpajakan, namun hal itu tidak sepenuhnya dapat menggerakkan sektor riil ke arah yang lebih baik. Langkah yang dibutuhkan adalah bentuk secara konkret, dimana bentuknya bisa seperti pembenahan infrastruktur ekonomi secara bertahap dipusat dan di daerah, restrukturisasi teknologi, perampingan birokrasi pemerintah, pembaharuan perizinan agar tidak saling tumpang tindih, penurunan suku bunga pinjaman, penghapusan pungli dan lain-lain yang tujuannya untuk menggerakkan perekonomian yang terlihat nyata manfaatnya oleh masyarakat. 

Restrukturisasi Teknologi Dari Pemerintah 

Seperti yang saya kemukakan diatas, dalam gejolak ekonomi global seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan harga minyak mentah dunia yang tinggi dan tidak stabil, sektor riil mengalami masa-masa yang cukup sulit. Oleh karenanya, penting bagi Pemerintah untuk membantu mendorong sektor ini agar dapat bergerak menuju ke arah yang lebih baik dan dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan restrukturisasi teknologi.  Kenapa perlu restrukturisasi teknologi? Singkat dapat dijawab, salah satunya yaitu untuk mengefisienkan biaya. Apa kaitannya? Dengan pembaharuan teknologi, terutama pada perangkat produksi, tentunya mekanisme dan proses peroduksi yang dilakukan dapat lebih dipersingkat.

Contoh kecil misalnya dalam hal packaging/ pengkemasan, dimana kegiatan yang sebelumnya, katakanlah hanya menggunakan tenaga manusia. Disini perusahaan akan mengeluarkan biaya yang besar karena membayar upah buruh dihitung per unit, artinya berapa banyak unit yang mampu dihasilkan oleh satu orang, jelas tidak mungkin perusahaan hanya mempekerjakan 20 buruh untuk target sebanyak 1 juta bungkus dalam 1 bulan. Selain itu, masalah lain yang mungkin timbul adalah; keluaran yang dihasilkan sudah pasti tidak sama, dan terkadang tidak memenuhi standar pembungkusan (produk gagal/ product fail), artinya disini sudah muncul kerugian/ loss. Akan tetapi, apabila proses ini diperbaharui dengan menggunakan mesin, maka proses yang dilakukan akan lebih cepat, hemat biaya karena perusahaan hanya membayar upah beberapa pegawai sebagai operator mesin, dan hasilnya pun sudah pasti sama rata. Inilah yang saya maksud dengan menekan cost produksi sedemikian rupa tanpa mengurangi mutu dan kualitas. Memang investasi awal yang perlu dikeluarkan lumayan besar, tapi berbanding dengan apa yang dihasilkan.

Lantas apa yang perlu dilakukan pemerintah? Seperti yang saya kemukakan di awal, hal ini tentunya memiliki relevansi yang erat dengan lending rate tadi. Dimana selain mengubah kebijakan fiskal sebagaimana saya kemukakan diatas, kiranya pemerintah melalui Bank Indonesia juga dapat mengeluarkan kebijakan moneter, yaitu sedikit menyesuaikan besaran suku bunga (rate of interest) yang diterapkan agar tidak terlalu memberatkan sektor riil dalam kondisi seperti sekarang.  Dengan adanya restrukturisasi teknologi, maka industri-industri Indonesia diharapkan tidak lagi tertinggal dengan industri negara lain, dan mutu dan kualitas barang produksi yang dihasilkan juga akan meningkat, dalam arti kata “Made in Indonesia” memiliki daya saing secara global. Dan pada akhirnya pendapatan negara dari sektor ekspor akan merangkak naik secara signifikan. Mengingat karena pertumbuhan ekonomi negara Asia, khususnya Indonesia sangat bergantung pada pertumbuhan ekspornya, jadi restrukturisasi teknologi ini sangat penting kaitannya dengan persaingan produk industri Indonesia di pasar internasional. Karena dalam perdagangan luar negeri memiliki tingkat persaingan yang ketat (yang dikenal dengan istilah tight competition). 

Apa yang harus dilakukan sektor riil. 

Selain “mengharapkan” kebijakan dari pemerintah yang notabene dapat mendorong pertumbuhan sektor riil seperti yang saya kemukakan diatas, akan lebih baik bila para pengusaha itu sendiri memiliki alternatif upaya defensive untuk menghadapi gejolak pasar global seperti sekarang ini, misalnya dengan lebih mencermati prilaku pasar internasional-seperti dengan intensifikasi produk atau defersivikasi bila dimungkinkan, menerapkan manajemen risiko (risk of management), melakukan penghematan di bidang produksi dengan catatan tidak mengurangi mutu dan kualitas, dan yang paling penting adalah meningkatkan financial deepening perusahaan. Artinya pada kondisi sekarang, perusahaan sedikit banyaknya harus dapat mengurangi ketergantungan  dari bank, akan tetapi sedapat mungkin harus mampu mengefektifkan dan me-manage serta melakukan pemantauan keuangan internal perusahaan dengan sebaik-baiknya. Sekaranglah saatnya administrator atau manager dituntut untuk berperan aktif. 

Adapun semua pernyataan yang penulis kemukakan diatas, secara ilmu ekonomi hanya bersifat normatif. Diharapkan kondisi ekonomi secara makro akan tetap stabil, dan sektor riil dapat bergerak naik secara signifikan sehingga dapat membantu menopang keekonomian Indonesia untuk menjadi perpaduan yang dinamis dalam menghadapi gejolak ekonomi global yang sedang terjadi saat ini.

Utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Wassalam.

Filed under: Ekonomi, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 171,161 hit

Kategori

%d blogger menyukai ini: