cappuccino break

Ikon

-Just For Expression-

Bisnis Waralaba Ritel Perlu Dibatasi?

By : Arditya Bima

Sekarang, bisnis waralaba di Indonesia sudah booming. Sudah menjadi trendsetter. Bukan hanya brandimage asing saja, namun brand-brand lokal juga sudah mulai mem-waralabakan usahanya. Lihat saja seperti, PT. Sumber Alfaria Trijaya dengan Alfamart, PT. Indomarco dengan Indomaret-nya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

FamilyMartKalau saya perhatikan, memang franchise/ waralaba ini memiliki sistem dan manajemen yang cukup bagus. Sehingga bisa dikatakan pemilik modal tidak perlu bersusah-susah merintis usahanya dari awal, dia cukup membeli brandimage yang sudah cukup dikenal, dan dengan dukungan dari franchisor (pewaralaba) maka usahanya bisa langsung jalan. Makanya banyak orang (yang punya modal) lantas buru-buru menjadi franshisee (terwaralaba).

Nah, fenomena yang ada sekarang, saya melihat bisnis waralaba, khususnya usaha ritel, sudah sangat menjamur, dan apabila tidak dibatasi maka justru dapat menimbulkan bentuk monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat, terutama yang terjadi pada pengusaha kecil yang swadaya. Disini, Saya tidak membahas persaingan antar sesama ritel waralaba (sekalipun memang itu juga terjadi).

Sebelum munculnya waralaba-waralaba ritel, pemilik warung, kios dan toko kecil masih bisa meraup keuntungan yang lumayan. Namun belakangan, banyak diantara mereka yang mengeluh karena sepinya pembeli. Omset mereka menurun, dan tak sedikit pula yang gulung tikar lalu beralih ke usaha lain (kalau masih ada modal). Jangan dibayangkan, jika disetiap sudut kota, sudut jalan, ruko, perumahan, pasar, bahkan di jalan kecil pun didirikan Indomaret atau alfamart, misalnya, karena memang itulah yang terjadi saat ini. Seolah-olah, pedagang kecil tidak diberi kesempatan untuk mencari nafkah.

Kenapa bisa begitu? Anak kecil pun saya rasa bisa berpikir, orang yang punya modal besar akan membeli barang dagangannya dalam jumlah besar pula, dan tentunya harganya akan jauh lebih murah jika dibandingkan pembelian dengan partai kecil/ eceran (makanya, harga barang di warung atau toko kecil pasti lebih mahal daripada di minimarket waralaba). Itulah sebabnya kenapa masyarakat lebih cenderung belanja di minimarket waralaba daripada di warung/ toko kecil.

Nah, itulah alasan saya kenapa bisnis waralaba ritel perlu dibatasi. Yaitu supaya masyarakat kecil masih memiliki kesempatan untuk berusaha dan mencari nafkah tidak hanya bagi kaum kapitalis belaka. Sebetulnya masih banyak alasan-alasan lainnya, hanya saja kalau saya beberkan, akan terlalu panjang tulisan ini nantinya.

Nb: Saya sendiri kalo mau beli rokok atau lainnya, misalnya, justru males kalau harus ke supermarket/minimarket waralaba. Biasanya saya malah belinya di toko atau warung kecil, paling selisih harganya juga gak terlalu signifikan. Gimana dengan anda? Cari yang murah meskipun harus antri di kasir? hehehe

Filed under: Waralaba / Franchise

16 Responses

  1. yumcatz mengatakan:

    ah, bedanya gak terlalu jauh antara warung dan waralaba.
    itu mah masyarakatnya aja pelit
    saya mah mending di warung soalnya lebih deket😛
    ————————————————————
    Sama sama gw tuh🙂
    eh, tadi gw komen di tempat lo, tapi kok ga muncul ya? masih pake moderasi atau kea akismet ya..😦

  2. Tom Stanley mengatakan:

    I found your site on technorati and read a few of your other posts. Keep up the good work. I just added your RSS feed to my Google News Reader. Looking forward to reading more from you.

    Tom Stanley
    ————————————————————
    Thanks a lot stan….iam very appreciate about that. I’ll visit to your blog soon.🙂

  3. manusiasuper mengatakan:

    Di negara lain, ada aturan pembatasan seperti itu ga om?
    ———————————————————–
    kok ga nanya di negara kita aja sih? hihihi (becanda)

    Ada, dalam butir2 disclosure document yang diwajibkan oleh hukum franchise di Amerika terdapat beberapa aturan pembatasan tsb. Ini garis besarnya :
    butir 12. Menjelaskan mengenai hak territory atau perlindungan
    butir 16. Menjelaskan pembatasan atau persyaratan dalam penjualan produk/jasa kepada konsumen

    Ntar gw mampir ke blog manusiasuper ya bos🙂

  4. stey mengatakan:

    Hemmm..susah ya, dilema buat pengusaha juga, di satu sisi, franchise membuka lapangan kerja, dilain pihak menutup rejeki orang..
    ———————————————————–
    bener stey, ini bisa dibilang dilema. Tapi mau gak mau tetep harus disolusikan biar roda ekonomi bisa jalan berimbang tanpa ada praktik2 yang ga sehat. Menurut lo gimana stey?

  5. mina mengatakan:

    masalahnya, minimart itu menyediakan wadah yang nyaman untuk memilih dan membandingkan sendiri barang, sehingga konsep ini lebih disukai daripada warung atau toko kecil biasa. kalaupun suatu hari diregulasi, orang pasti merindukan adanya minimart, karena sudah terbiasa nyaman.
    ———————————————————–
    Makasih ya mba mina dah mampir n komen disini. Eh iya mba, emang bener belanja di minimart lebih nyaman (pake AC lagi hehehe). Ya itu yang saya bilang (khusus yang punya modal) mba, sebetulnya pedagang kecil juga mau dong toko/warung/tempat usahanya bisa senyaman minimart. Tapi kan mereka terbentur dengan keterbatasan modal.

    Mereka mau mengajukan pinjaman bank, tapi masalahnya, untuk pengajuan kredit bank kan harus pake agunan. Nah gimana dengan yang ga punya agunan? terpaksa mereka cuma bisa survive aja dengan modal seadanya (yang penting barang laku, dapet untung). Makanya ga sedikit dari mereka yang terjerat tengkulak pasar. Kalo saya bilang sih, kasian deh mereka😦

    Maksud saya, regulasi yang perlu itu, cuma pembatasan aja, bukannya dilarang sama sekali mba. Misalnya pembatasan jumlah brand dalam suatu lokasi.🙂

    Setuju gak mba? apa punya pandangan lain?

  6. anna mengatakan:

    tengok jawaban dari komen mina.. setuju kalau ada pembatasan… jangan terlalu banyak dalam satu lokasi/daerah… bingung nge cek harganya mana yg lebih murah😀
    ———————————————————–
    hehe…..iya mba ana, kalo cewek emang suka banding2in harga ya😛 hehe

  7. Zee mengatakan:

    Banyak faktor yg berpengaruh soal pilih t4 belanja. Klo hanya ingin minum tehbotol ato beli rokok, ya mending k warung deket rumah. Hemat waktu.

    Tp klo udah bicara belanja kuantiti aga banyak yg pengaruh k soal harga, biasanya org memilih utk belanja di mini market, krn selisih akan terasa banyak saat kita belanja yg banyak jg.

    Soal pembatasan waralaba di suatu daerah, memang shrsnya begitu. Di t4 saya ada lebih dari 10mini market dgn jarak 5mtr, pdhl harganya jg paling beda 10-20 perak. Jadinya pedagang cuma nunggu keberuntungan aja, sapa yg singgah ke toko dia.
    ———————————————————–
    Iya sih mba zee, kalo kita belanja agak banyakan emang selisih harganya gede, n di warung juga biasanya stoknya gak sebanyak itu.

    Wah, gw kira cuma di daerah gw aja yang jaraknya 5meter ada minimart, ternyata dimana-mana sama😦

  8. crushdew mengatakan:

    waduh ga ngeh hal begituan..malah lebih berharap negara kita tak lagi konsumtif..bisa ga ya?

  9. fadhil mengatakan:

    sebagai konsumen, saya diuntungkan dengan adanya minimarket karena bisa memilih dengan leluasa dan nyaman (karena ber-AC).
    sebagai rakyat biasa, saya lebih suka belanja di warung tradisional karena masih bisa ngutang!!! hehehe..
    sebagai “pebisnis” (seandai aku punya warung kelontong), tentu saja aku gak setuju dengan kehadiran minimarket krn akan mengganggu/menyaingi kelangsungan hidup bisnis saya..
    ———————————————————–
    Bener bos, emang kita liatnya harus dari beberapa sudut pandang🙂

  10. shinobigatakutmati mengatakan:

    yang penting perekonomian kita tetap lantjar!!! hehehe
    ———————————————————–
    Iya bos, makasih ya dah mampir lagi, nanti gw gantian kesana deh🙂

  11. lil4ngel5ing mengatakan:

    Moto boleh demokrasi pancasila tapi kenyataannya perekonomian kapitalis.. hehehe memang tak ada yang mutlak dalam menjalankan suatu sistem… betul gak???
    ———————————————————–
    Betul mba angel…🙂 gw setuju aja kalo mba yang bilang🙂

  12. yanwar mengatakan:

    hehe,,yg namanya rejeki dah dibagi2 sesuai porsi dan usahanya,manusia tinggal berusaha dan berdoa aje,,masalah dilema,mungkin itulah salah satu sebab adanya kemajuan,,klo tdk ada dilema/lancar2 saja,,nggak ada usaha untuk kreatif kliatanyaa..
    ———————————————————–
    Iya mas, betul, ini mendorong orang untuk kreatif.🙂

  13. Ina mengatakan:

    😀 saya lebih suka belanja di warung….soalnya bisa ngutang.
    kl di supermarket nga bisa,ditambah kdg mbak-mbak penjaganya jutek-jutek.

    *pigi ngutang di warung depan*

  14. cendanabatam mengatakan:

    Korban perang Vietnam di Galang-Batam, dokumennya ada di http://www.hijaubatam.wordpress.com

  15. Van mengatakan:

    Boleh tau lagi ga alesan lainnya??thx alot

  16. sutikno mengatakan:

    kita jangan terlalu manja, tetapi harus bisa dan berani bersaing gituuuu???/!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

  • 171,161 hit

Kategori

%d blogger menyukai ini: